Saussure; Bapak Linguistik yang Tak Pernah Menulis Buku Linguistik

Roby Aji - Thu, Jan 16, 2020 7:29 AM

Menurut Jonathan Culler, dalam bukunya yang berjudul Saussure, ketertarikan Saussure pada bahasa sudah dimulai sejak ia berusia 15 tahun. Selain bahasa Inggris, ketika remaja ia juga mempelajari bahasa Yunani, Perancis, Latin, dan Jerman. Bukan hanya itu, Adolf Pictet, seorang filolog yang pertama kali memperkenalkan ilmu Bahasa pada Saussure juga pernah dibuatnya kagum. Karena semangatnya, Saussure muda pernah mengembangkan suatu teori ekstrem tentang sifat dasar bahasa. Dalam sebuah tulisan berjudul Essay of Languages, Saussure mengemukakan kepada Pictet bahwa semua bahasa berasal dari suatu sistem dua atau tiga konsonan dasar. Sistem itu dinamainya dengan "sistem bahasa umum". Tentu saja Pictet hanya tersenyum membaca reduksi ekstrem anak muridnya yang baru saja mulai mempelajari bahasa Sansekerta itu.

Mengikuti kebiasaan keluarga, pada tahun 1875 Saussure lantas mendaftar ke Universitas Jenewa. Bukan sebagai mahasiswa bahasa, tetapi sebagai mahasiswa fisika dan kimia. Namun begitu, rupanya ia tetap tak bisa meninggalkan bahasa Latin dan Yunani. Oleh karena itu, Saussure meminta kedua orangtuanya mengirimkannya ke Universitas Leipzig saja. Karena merasa bahwa masa depannya ada pada penelitian bahasa, ia meninggalkan satu tahunnya di Universitas Jenewa. Ia lebih memilih bergabung dengan asosiasi linguistik di Leipzig, juga masyarakat linguistik di Paris.

Leipzig boleh dibilang adalah pilihan menguntungkan bagi Saussure. Karena Universitas Leipzig ketika itu, merupakan pusat bagi kelompok ahli sejarah bahasa muda. Kelompok itu dikenal dengan sebutan jung-gramatiker atau neo-grammarian. Dalam bahasa Indonesia, bolehlah disebut dengan tatabahasawan baru. Kelompok inilah yang belakangan juga dikenal sebagai angkatan linguis paling kreatif di masanya. Salah satu penggeraknya, tidak lain ialah guru Saussure sendiri, Karl Brugmann. Ketika itu Brugmann adalah linguis yang cemerlang, dan berhasil menyumbangkan suatu penemuan penting tentang hukum bunyi sengau. Penemuan itu sering disebut dengan Brugmann's Law.

Pada usia 21 tahun, tepatnya 1878, Saussure menerbitkan sebuah tulisan berjudul Memoire sur le Systeme Primitif des Voyelles dans le Langues Indoeropeennes atau Laporan Ilmiah tentang Sistem Vokal Primitif Bahasa Indo-Eropa. Tulisan ini mendapat sambutan baik. Sebagian orang bahkan menilainya sebagai karya terbaik yang pernah ditulis dalam penelitian filologi komparatif. Sebab linguis muda ini telah berani menyerang masalah yang besar dan mendasar dalam penelitian linguistik historis, yakni persoalan metodologi.

Berikutnya, setelah berhasil mempertahankan tesisnya dalam penggunaan kasus genitif pada bahasa Sansekerta, Saussure memperoleh gelar Doktor dengan predikat summa cum laude. Ia pun pergi ke Paris, dan mengajar di Ecole pratiques des hautes etudes. Di sana ia mengajar Bahasa Sansekerta, Gotik, dan Jerman Tinggi. Baru pada tahun 1887 ia  mulai mengajar filologi Indo-Eropa secara umum.

Meski kolega dan linguis senior menaruh hormat, bahkan memberinya julukan sebagai ksatria pasukan khusus atau chevalier de la legion d'honneur, Saussure merasa karirnya tidak begitu berkembang. Maka ketika datang tawaran untuk menjadi guru besar di Universitas Jenewa, ia memilih untuk kembali ke Swiss. Sayangnya, karirnya di Swiss juga tak sebagus yang ia harapkan. Di Jenewa, ia mengajar Bahasa Sansekerta dan linguistik historis, tetapi mahasiswanya lebih sedikit. Karena itu, ia merasa sulit untuk maju.

Di sana, ia menikah dan memiliki dua anak laki-laki. Namun agaknya, keadaan itu justru membuat Saussure semakin jarang menulis. Berdasarkan dokumen yang ada, pada masa itu Saussure mulai tertekan oleh kekerasan hidup yang dilalui. Ia mulai jarang bepergian, dan hidup dalam ketidakpastian.

Melalui surat pribadi, ia bahkan pernah menulis bahwa ia bosan dengan keadaan hidupnya. Ia mulai kesulitan menulis. Masalah linguistik yang diamatinya tidak bisa membuatnya menulis apapun, bahkan hanya untuk menyusun sepuluh baris. Saussure berpikir, betapa banyak pekerjaan yang harus ia lakukan untuk menyadarkan para linguis tentang apa yang tengah mereka perbuat pada linguistik saat itu. Menurutnya, perlu ada pembaharuan dalam banyak sisi. Perlu ada tinjauan ulang terhadap terminologi-terminologi yang ada, pada objek penelitian bahasa, juga pada sifat umum bahasa. Saussure menyatakan bahwa ia akan menulis sebuah buku tentang itu semua.

Sayangnya, buku itu tak pernah berhasil ia tulis. Untung pada tahun 1906 seorang profesor memasuki pensiun, sehingga Universitas Jenewa menugaskan Saussure untuk mengajar linguistik umum. Sejak itu setiap tahun, mulai 1907 hingga 1911 ia memberi kuliah mengenai hal itu. Maka ketika Saussure jatuh sakit dan meninggal dunia pada tahun 1913, tinggallah suatu catatan perkuliahan yang sekarang kita kenal dengan Cours de Linguistique Generale.

Begitulah semasa hidup Saussure melalui riwayat yang lurus, dan seolah tanpa gejolak. Meski tulisannya terdahulu telah membuatnya sejajar dengan Karl Brugmann dan Karl Verner dalam sejarah filologi, perkembangan karirnya bukanlah suatu hal yang luar biasa.

Namun demikian, murid dan koleganya berpendapat bahwa pemikiran Saussure dalam linguistik umum adalah sesuatu yang berharga untuk dipelihara. Tugas yang berat itu pun diambil oleh Charles Bally dan Albert Sechehaye. Bersama-sama, mereka mengumpulkan catatan yang dimiliki Saussure. Meski menurut Bally, tulisan Saussure sendiri amatlah sedikit. Karena hal itu ia perlu mengoleksi pula beragam catatan mahasiswa yang pernah mengikuti rangkaian perkuliahan Saussure. Dari tambal sulam itulah Bally dan Sechehaye mendapatkan suatu rangkaian besar yang dapat menunjukkan gagasan umum Saussure.

Pada mulanya Bally dan Sechehaye hanya akan menerbitkan rangkaian catatan perkuliahan Saussure selama tiga tahunnya mengajar linguistik umum. Hanya saja apa yang disusunnya akan mengandung begitu banyak pengulangan. Oleh karena itu, mereka memilih untuk menyusun satu rangkaian terpadu saja. Meski mengandung risiko salah tafsir, mereka memutuskan untuk membuat sintesa dari setiap catatan yang ada. Adapun satu-satunya metode dan landasan yang mereka pegang, tidak lain adalah dengan berpedoman pada catatan pribadi Saussure.

Melalui tangan Bally dan Sechehaye itulah, lahir satu karya monumental berjudul  Course in General Linguitics. Sebuah buku yang rupanya terus diselidiki di setiap zaman. Dalam penyusunannya, karya ini jelas mengandung risiko tinggi untuk salah tafsir, namun begitu ia menjadi buku yang mengagumkan. Buku ini menjadi sumber pengaruh dan reputasi Saussure dalam dunia linguistik, bahkan setelah ia tidak ada di dunia. Buku ini jugalah yang rupanya kemudian mempengaruhi banyak linguis pada generasi mendatang.*




Pintu Video