Isyana Sarasvati menurut Psikolinguistik

Irwan Suswandi - Wed, Jan 22, 2020 10:01 AM

Siapa tidak mengenal Isyana Sarasvati, sosok penyanyi cantik yang multitalenta. Di balik penampilan memukaunya di panggung, ternyata ada pula sisi menarik yang kerap menjadi perhatian warganet. Hal itu, tidak lain ialah kebiasaannya dalam mencampur-aduk dan membolak-balikkan kata yang hendak disampaikannya. Bukan hanya menarik untuk diperbincangkan, hal itu juga cukup memikat untuk diteroka melalui teropong psikolinguistik.

Sebagian dari ujarannya yang campur-aduk atau terbolak-balik itu, memang ia sadari sebagai sebuah kesalahan. Oleh karena itu sesaat setelah Isyana merasa dirinya salah ucap, ia pun segera memperbaiki ujarannya. Sementara pada kesempatan lain, ia sama sekali tak menyadarinya. Kebiasaan unik Isyana itu dapat kita perhatikan, misalnya dalam ujaran beneng dor, tersepona, inspirasa, sekruefensi, kerukan, garis kerap, dan mengalama.

Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya fenomena seperti itu kita kenal dengan istilah salah ucap atau keseleo lidah. Sementara dalam kajian psikolinguistik, kesalahan ucap semacam ini disebut slip of the tongue atau kilir lidah. Gejala ini umumnya dibicarakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari produksi ujaran bahasa.

Produksi ujaran

Sebelum kita bicara soal fenomena kilir lidah, ada baiknya kita bicarakan pula apa saja yang terjadi dalam proses produksi ujaran. Di dalam proses produksi ujaran, setidaknya terdapat empat tahapan yang dilalui. Tahap pertama adalah tahap mengonseptualisasi gagasan yang hendak dikatakan, tahap kedua adalah tahap merumuskan rencana satuan bahasa, tahap ketiga adalah tahap mengartikulasikan rencana, sementara tahap keempat adalah tahap memantau ujaran (Levelt, dalam Carroll, 2008: 193).

Tahapan pertama berkaitan dengan apa yang ingin kita komunikasikan, yakni suatu proses penyusunan konsep yang baru terjadi di dalam otak manusia. Tahapan kedua adalah proses menyusun satuan bahasa. yang berfungsi untuk mewakili konsep yang terbentuk pada tahap pertama. Sementara tahapan ketiga adalah proses mengujarkan satuan bahasa yang sudah tersusun melalui alat wicara. Adapun tahapan keempat berkaitan dengan evaluasi dan proses memperhatikan kembali ujaran bahasa yang telah diucapkan pada tahap sebelumnya.

Dalam tahap terakhir ini, penutur memperhatikan kembali apakah ujarannya sesuai dengan konsep yang direncanakan ataukah tidak. Apabila sesuai, maka alat wicara akan melanjutkan satuan-satuan bahasa lainnya yang merepresentasikan konsep yang terbentuk. Namun apabila tidak sesuai, maka penutur akan menciptakan jeda di antara rangkaian ujaran. Hal itu dimaksudkan untuk memperbaiki satuan bahasa dengan mengulang ujaran yang dinilai tidak sesuai dengan konsep yang diinginkan. Salah satu fenomena ketidaksesuaian antara konsep dengan artikulasi ini dikenal disebut kilir lidah atau slip of the tongue.

Kilir lidah dan jenisnya

Menurut Jaeger, kilir lidah adalah suatu kekeliruan yang terjadi dalam perencanaan produksi tuturan; yakni ketika pembicara ingin menuturkan beberapa kata, frasa, atau kalimat. Kekeliruan terjadi ketika proses perencanaan berlangsung, sehingga tuturan yang diproduksi tidak sesuai dengan perencanaan. Secara sederhana, kilir lidah dapat didefinisikan sebagai gejala ketidaksesuaian antara hasil produksi tuturan dengan apa yang hendak diucapkan.

Carroll mengklasifikasi bentuk kilir lidah menjadi delapan macam, yakni shift atau pergeseran, exchange atau pertukaran, anticipation atau antisipasi, perseveration atau perseverasi, addition atau penambahan, deletion atau penghapusan, substitution atau penggantian, dan blend atau pencampuran.

Pergeseran adalah jenis kekeliruan ujaran berupa hilangnya suatu satuan ujaran dari lokasi yang seharusnya, dan justru muncul di lokasi yang bukan semestinya. Contoh kekeliruan jenis ini adalah frasa tidak tunturnya dalam kalimat berikut ini. Satu hal yang membuatnya menarik bagi orang lain adalah tidak tunturnya yang sopan. Dalam contoh tersebut, terdapat pergeseran fonem /n/, yang semestinya muncul pada kata tindak, justru fonem tersebut bergeser ke kata tutur.

Pertukaran adalah jenis kekeliruan ujaran berupa dua satuan linguistik yang mengalami pertukaran tempat. Contoh kekeliruan jenis pertukaran terdapat dalam kalimat berikut ini. Setahu saya banyak pejabat yang meminta grafitikasi kepada Presiden Joko Widodo. Dalam kalimat tersebut, terjadi pertukaran tempat antara silaba fi dan ti dalam kata yang semestinya adalah gratifikasi.

Antisipasi adalah jenis kekeliruan ujaran berupa bagian yang mestinya muncul di bagian belakang muncul mendahului bagian lain yang semestinya. Kekeliruan jenis ini berbeda dengan pergeseran, karena bagian yang muncul tidak pada tempatnya, juga muncul kembali pada bagian yang semestinya. Contoh kekeliruan jenis antisipasi adalah kalimat berikut ini. Pada musim kemarau, sumur kami kering kering. Dalam kalimat ini, silaba ke yang seharusnya muncul pada kata kering di akhir tuturan, muncul sebelum bagiannya. Dalam hal ini silaba se yang seharusnya muncul dalam kata sering terganggu karena adanya antisispasi terhadap kata kering. Oleh karena itu, frasa sering kering mengalami salah ucap menjadi kering kering.

Preseverasi adalah jenis kekeliruan ujaran ketika bagian yang telah muncul sebelumnya muncul kembali menggantikan bagian di belakangnya. Dapat dikatakan bahwa jenis kekeliruan ini adalah kebalikan dari jenis kekeliruan antisipasi. Contoh kekeliruan dapat dilihat dalam kalimat berikut ini. Suka suka menjadi pemandu wisata itu banyak sekali. Dalam contoh tersebut, silaba su yang telah muncul dalam kata suka, kembali muncul dalam kata duka yang seharusnya muncul setelahnya. Dalam kasus ini silaba su terulang dan muncul kembali menggantikan silaba du. Frasa suka duka mengelami preservasi menjadi suka suka.

Penambahan adalah jenis kekeliruan yang berupa adanya penambahan satuan linguistik yang tidak semestinya. Contohnya adalah kalimat berikut ini. Dia itu selalu bikin esmosi. Dalam kalimat ini, kata emosi mengalami penambahan fonem /s/ di antara fonem /e/ dan /m/.

Penghapusan adalah jenis kekeliruan yang berkebalikan dengan penambahan. Jenis kekeliruan ini terjadi karena adanya penghilangan satuan linguistik yang seharusnya ada. Berikut adalah contoh kekeliruan penghapusan. Tenaga ahli kepresidenan akan segera melakukan konfrensi pers terkait kasus ini. Dalam contoh ini, terjadi penghapusan fonem /e/ di antara fonem /f/ dan /r/, yang semestinya diujarkan sebagai kata konferensi.

Penggantian adalah jenis kekeliruan berupa penggantian kata yang bukan tidak semestinya oleh suatu kata yang tidak sengaja menyusup. Contoh kekeliruan ini adalah kalimat berikut. Kalau ditekan terus seperti ini, siapa pun akan senang. Dalam contoh tersebut, kata senang menggantikan kata sedih yang hendak diujarkan. Hal ini karena kata senang menyusup ke dalam benak penutur ketika memikirkan konsep sedih.

Pencampuran adalah jenis kekeliruan yang muncul berupa penggabungan antara lebih dari satu kata berlainan dalam satu item ujaran. Gejala ini muncul akibat adanya lebih dari satu kata yang dipertimbangkan untuk diucapkan, atau adanya dua maksud yang secara tidak sengaja tercampur menjadi satu. Contoh gejala ini dapat diperhatikan dalam kalimat berikut ini. Benul, itu mobilnya! Dalam kasus ini, ujaran benul merupakan satu item ujaran yang dihasilkan oleh pencampuran antara dua kata yang tengah dipertimbangkan oleh penuturnya, yakni benar dan betul. Dalam keadaan terburu-nuru keduanya muncul menjadi satu.

Apakah kilir lidah kelainan?

Pertanyaan selanjutnya, apakah slip of the tongue itu gejala yang wajar atau merupakan satu kelainan? Dan kapan kilir lidah tersebut terjadi? Nyatanya, kilir lidah adalah hal yang pernah dilakukan setiap orang. Setiap orang berpotensi melakukan kilir lidah tanpa terkecuali. Hal yang membedakan adalah frekuensi atau seberapa banyak seseorang dapat mengalami kilir lidah dalam hidupnya.

Hal itu berkaitan erat dengan pribadi seseorang, terutama pembawaan dan gaya bicara. Orang dengan pembawaan mudah gugup, atau memiliki gaya berbicara yang cepat, memiliki potensi melakukan kilir lidah yang lebih tinggi. Sebaliknya, pembawaan yang lebih tenang, gaya bicara teratur, dan penguasaan materi yang hendak disampaikan dapat mengurangi potensi kilir lidah. Potensi kilir lidah umumnya semakin tinggi pada saat seseorang sedang tergesa-gesa, grogi (gugup, gelisah, takut salah, khawatir), menampilkan lelucon, di bawah tekanan, kelelahan, atau sedang mabuk.

Kilir lidah Isyana

Kembali pada penyanyi cantik kita, setidaknya ada tujuh kilir lidah Isyana yang mengundang gelak tawa, yakni beneng dor, tersepona, inspirasa, sekruefensi, kerukan, garis kerap, dan mengalama. Fakta itu menunjukan bahwa Isyana cukup sering mengalami salah ucap dan memiliki beragam varian jenis kilir lidah yang cukup kaya.

Dalam kasus beneng dor, terpesona, dan sekruefensi misalnya, Isyana didapati mengalami kilir lidah jenis pertukaran. Pertukaran dua unit linguistik terjadi pada fonem /ŋ/ yang muncul menempati posisi fonem /r/, sehingga frasa yang seharusnya bener dong terkilir menjadi beneng dor. Pertukaran fonem juga terjadi pada kata tersepona. Dalam hal ini fonem /s/ tidak sengaja bertukar dengan posisi dengan fonem /p/, sehingga kata yang semestinya adalaha terpesona terkilir menjadi tersepona. Adapun dalam kasus sekruefensi pertukaran terjadi pada empat fonem sekaligus, yakni /k/, /f/, /u/, dan /e/.

Di samping pertukaran, Isyana juga cukup sering mengalami gejala penggantian. Jenis kilir lidah penggantian ini di antaranya muncul dalam kasus kerukan dan garis kerap. Dalam kasus ini, kata kerukan merupakan unit linguistik penyusup yang secara tidak sengaja menggantikan kata teruskan yang sejatinya hendak diucapkan Isyana. Sementara dalam kasus garis kerap, fonem /p/ menjadi penyusup menggantikan fonem /s/ yang semestinya muncul dalam frasa garis keras.

Sementara itu, varian kilir lidah yang juga dialami Isyana adalah jenis antisipasi dan preservasi. Kilir lidah antisipasi muncul misalnya dalam kasus inspirasa. Dalam rekaman tuturan itu, Isyana sejatinya hendak mengatakan kata inspirasinya. Namun karena ia berbicara terlalu cepat, ucapannya terkilir, sehingga fonem /a/ muncul lebih awal mengambil tempat fonem /i/ yang seharusnya muncul terlebih dahulu. Varian ini disebut kilir lidah antisipasi. Sebaliknya pada kasus mengalama, fonem /a/ yang sudah muncul pada silaba ketiga, justru terulang lagi pada silaba keempat dan menggantikan posisi fonem /i/ yang seharusnya muncul. Adapun jenis ini disebut dengan kilir lidah preservasi. Apakah masih ada varian kilir lidah lain yang pernah dialami Isyana? Tentu kita akan dengan senang hati menjawab, masih perlu memeriksa aksi panggung dan kelucuan Isyana dalam lebih banyak kesempatan.*

 




Pintu Video