Representasi Kesantunan dari Cara Berbahasa

Admin - Fri, Feb 21, 2020 10:56 PM

Pernyataan lidah lebih tajam dari pisau tampak benar adanya. Faktanya, tidak sedikit kasus kekerasan verbal yang terjadi dan dapat menyeret pelakunya ke jalur hukum. Sebut saja kasus pencemaran nama baik melalui jejaring sosial  facebook dan twitter yang marak terjadi di sekeliling kita, bahkan mungkin pernah juga menimpa kita. Kasus-kasus tersebut seolah mengisyaratkan, betapa penggunaan bahasa tidak dapat dianggap remeh dalam interaksi kita sehari-hari.

Sejatinya, sebagai pengguna bahasa, manusia memiliki kewenangan dalam menggunakan bahasa. Akan tetapi, kewenangan tersebut haruslah patuh pada konvensi (kesepakatan) dengan sesama pengguna bahasa lain. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga keharmonisan dan keselarasan dalam berkomunikasi atau berinteraksi terhadap sesama pengguna bahasa. Jika nilai konvensi tersebut dilanggar, maka interaksi yang tidak diinginkan dapat dengan mudah terjadi. Seperti kasus pencemaran atau pelecehan yang marak terjadi saat ini. Hal tersebut salah satunya disebabkan karena tidak adanya keselarasan berkomunikasi antarpengguna bahasa.

Keselarasan berbahasa bermula dari penggunaan bahasa yang diterima di masyarakat. Konvensi atau kesepakatan dalam menggunakan bahasa bukanlah suatu hal yang sulit dicapai. Yang dimaksud dengan kesepakan di sini, merujuk pada pemakaian bahasa yang santun sehingga bahasa yang digunakan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat tanpa menimbulkan keambiguan. Sebab keambiguan juga seringkali berpotensi memicu kesalahan tafsir yang berakhir pada perdebatan di dalam masyarakat.

Di sisi lain, dalam berbahasa, kita juga mengenal istilah ragam formal dan nonformal. Kedua ragam tersebut tentu memiliki peran yang berbeda. Ragam bahasa formal digunakan dalam situasi resmi, seperti seminar, rapat, hingga pertemuan yang bersifat formal. Sementara ragam bahasa nonformal digunakan dalam situasi tidak formal, seperti berbicara dengan teman, sahabat, sampai kerabat. Singkatnya, dalam situasi santai.

Ragam bahasa formal identik dengan penggunaan bahasa atau kata baku sesuai EYD (Ejaan yang Disempurnakan), KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan pedoman kaidah kebahasaan yang berlaku lainnya. Sedangkan, ragam bahasa nonformal identik dengan penggunaan bahasa secara santai, dan tidak terlalu memerhatikan kaidah kebakuan berbahasa. Meskipun pada praktiknya, tidak jarang dalam situasi formal juga digunakan bahasa secara santai, begitu juga sebaliknya.

Jika kita memahami dengan baik dan benar bagaimana strategi dalam menggunakan bahasa, kapan kita menggunakan bahasa formal, dan kapan kita menggunakan bahasa nonformal, niscaya kesantunan dan keselarasan dalam berbahasa akan mudah terwujud. Sementara kekerasan verbal akan mudah dihindari

Rizki Hidayatullah Nur Hikmat

Pemerhati bahasa dan guru bahasa Indonesia.




Pintu Video