Perlukah Sebuah Negara Mempunyai Bahasa Nasional?

Ahmad Muzaki - Fri, Jun 5, 2020 7:29 PM

Indonesia patut bersyukur, sebab negara yang katanya dirahmati oleh Tuhan ini adalah negara yang sangat kaya. Tidak hanya kaya akan sumber daya alam, namun juga keberagamannya. Salah satunya adalah bahasa. Tercatat oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, setidaknya sampai saat ini Indonesia memiliki 652 bahasa daerah yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Dengan bahasa Indonesia, orang dari Sabang sampai Merauke bisa saling memahami meskipun tak saling memiliki. Eh, maksudnya tak saling menguasai bahasa daerah masing-masing.

Sungguh, betapa repotnya gugus penanganan Covid-19 jika harus menerjemahkan istilah masker, sabun, dan orang dalam pantauan ke dalam 652 bahasa demi tersampainya informasi yang tepat. Sekalipun demi pesan yang akurat dan menyelamatkan umat, penerjemahan itu tentu akan menjadi kerja yang sangat berat. Untung hal itu tidak perlu dilakukan, berkat adanya bahasa Indonesia yang telah menjadi bahasa nasional di negeri kita tercinta.

Bahasa Nasional menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bahasa standar, atau lingua franca di (suatu) negara yang memiliki banyak bahasa karena perkembangan sejarah, kesepakatan bangsa, atau ketetapan perundang-undangan. Bahasa nasional juga erat kaitannya dengan pengertian national dan country. Kata national digunakan untuk menunjukkan bangsa, yaitu satu golongan masyarakat tertentu yang hidup Bersama, serta memiliki perkembangan sejarah dan ikatan psikologis yang sama. Sedangkan country digunakan untuk menyatakan batas teritorial wilayah tertentu dengan wilayah lainnya. Konsep nasional ini bisa saja melampaui batas-batas yang sudah ditentukan tadi. Oleh karena itu, masyarakat dalam satu negara yang sama, belum tentu sepakat disebut sebagai satu bangsa yang sama.

Perlu kita ketahui bahwa tidak semua negara memiliki bahasa nasional. Fakta ini terkait dengan definisi kata national dan country yang sudah dijelaskan barusan. Negara dengan lebih dari satu bangsa, besar kemungkinan juga memiliki banyak bahasa yang diuturkan. Istilah kerennya menjadi negara yang multilingual.

Hal ini tentu akan menjadi pilihan yang dilematis untuk menentukan bahasa yang akan digunakan sebagai bahasa nasional. India misalnya, dengan tak kurang dari 454 bahasa, negara tersebut tidak mampu menentukan salah satu bahasa yang mereka punya sebagai bahasa nasional. Hindi sebagai bahasa terbesar yang digunakan masyarakat di sana pun tidak cukup mampu untuk merepresentasikannya.

Beberapa penutur yang tidak menggunakan bahasa Hindi merasa tidak punya kewajiban untuk menjadikan bahasa yang tidak mereka gunakan sebagai bahasa nasional. Puncaknya adalah tahun 1946, ketika penutur bahasa Tamil menolak dengan keras bahasa Hindi sebagai bahasa nasional. Mereka mengangap bahasa Hindi belum cukup mewakili semua penutur bahasa di negara tersebut, karena banyak yang tidak bisa menggunakan bahasa Hindi. Gerakan penolakan ini dikenal dengan sebutan Gerakan Anti Hindi dari Tamil Nadu.

Konfilk Tamil dan Hindi ini kemudian berbuntut panjang. Dampaknya, ketika para politisi yang berasal dari India selatan (yang pada umumnya menggunakan bahasa Tamil) menyalonkan diri sebagai pejabat publik, mereka tidak pernah mendapat cukup suara untuk berkuasa di tingkat nasional. Keputusan pemerintah India untuk meyandingkan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi kenegaraan bersama bahasa Hindi juga semakin memperburuk keadaaan. Bagaimana tidak? Bahasa yang berasal dari negara sendiri saja mereka tolak, apalagi bahasa asing yang notabene semakin jauh dari jati diri bangsa. Tidak adanya rasa satu jiwa, satu bangsa, dan satu ikatan psikologis yang sama, disinyalir membuat penentuan bahasa nasional ini sulit untuk dilakukan.

Tidak memiliki bahasa atau hilangnya bahasa asli karena penjajahan juga sama dilematisnya. Meskipun dikenal sebagai Negara Adidaya, Amerika Serikat tidak bisa menolak fakta bahwa mereka tidak punya bahasa nasional. Amerika baru bisa meresmikan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional mereka pada tahun 2006 silam (240 tahun setelah merdeka). Satu catatan yang kurang sempurna untuk bisa disebut sebagai negara yang besar. Catatan sejarah menuliskan bahwa Amerika dulunya hanyalah sebuah daratan kosong yang kemudian ditempati oleh para imigran dari Inggris. Masih merasa sebagai orang Inggirs mereka membawa bahasa dan kebudayaan yang lama ke tempat yang baru. Beratus tahun setelahnya, orang-orang itu memutuskan untuk membentuk negara yang baru bernama Amerika Serikat. Dengan catatan tetap membawa bahasa Inggris yang sudah terlanjur menjadi lingua franca sebagai bahasa resmi maupun bahasa nasional mereka. Apa itu buruk ? Tentu tidak jika negara tersebut secara suka rela disebut sebagai negara yang tidak memiliki bahasa dan budaya sendiri. 

Australia mempunyai cerita yang berbeda. Suku Aborigin yang dikenal sebagai penduduk asli Australia diketahui mempunyai hampir 250 bahasa daerah. Namum, adanya kolonialisasi pada tahun 1788 oleh bangsa eropa banyak mengubah tatanan hidup penduduk asli negeri kangguru itu. Pendatang dari eropa makin lama makin mendesak kehidupan mereka, mengusir mereka dari tempat tinggal dan daerah perburuan mereka. Bahasa asli penduduk setempat juga dilarang untuk digunakan, dan dianggap sebagai tindakan subversif. Hal ini membuat bahasa Inggris semakin masif untuk digunakan, dan sekarang sudah menjadi bahasa yang paling banyak dituturkan dengan prosentase 70% dari seluruh penutur bahasa di Australia.  Kolonilasisasi membuat bahasa lokal yang semestinya bisa digunakan sebagai bahasa nasional dan sekaligus jati diri bangsa gagal dimanfaatkan dengan baik.

Sebagai warga negara Indonesia, tentu ada pelajaran penting yang dapat kita ambil dari tragedi penentuan bahasa nasional di India, Amerika, dan Australia. Dalam menentukan bahasa nasional, setidaknya kita dapat dikatakan setingkat lebih maju. Kita patut bersyukur, karena para pejuang negara kita seperti Muhammad Yamin, Djamaludin Adinegoro, Mohammad Tabrani, Armijn Pane dan Suryowitjitro adalah nasionalis yang arif dan memiliki pemikiran yang visioner. Mereka tidak memperjuangkan bahasa Jawa yang jumlah penuturnya paling besar, tapi justru lebih memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Mereka lebih mementingkan pertalian bangsa ketimbang ego kelompok dan suku masing-masing. Hasilnya, dapatlah kita nikmati sekarang. Meskipun Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah dan juga merupakan negara bekas jajahan negera lain, tetapi Indonesia berhasil menentukan bahasa nasional sendiri.

Hal itu menjadi penting, karena bahasa merupakan elemen dasar dalam membentuk sebuah negara yang berdaulat. Negara yang memiliki konstitusi sendiri tetapi tidak mempunyai bahasa sendiri, belum lengkap rasanya untuk disebut sebagai negara yang berdaulat. Sebab berdaulat berarti menyatakan diri bebas dari segala bentuk penjajahan. Termasuk dari dominasi bahasa asing dalam kehidupan bernegara. Sebab penjajahan tidak hanya ada dalam bentuk politik dan ekonomi, melainkan juga dalam rupa penjajahan budaya. Bahasa adalah harga diri sebuah negara. Oleh karena itu, dapat berdiri kokoh dengan konstitusi dan bahasa sendiri merupakan kemampuan yang prestisius. Negara tertinggal dapat berubah menjadi negara maju, sementara untuk menjadi negara yang besar kita butuh sejarah yang besar.*




Pintu Video