Pelakor

Admin - Fri, Feb 21, 2020 10:56 PM

Persoalan cinta selalu bisa memikat para pendengarnya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menafsirkan cinta dengan arti 'suka sekali; sayang benar; kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan)'.  Banyak istilah dalam menyuarakan cinta, di antaranya cinta bebas, cinta kilat, cinta kiamat, cinta monyet, dsb. Namun rupanya ada satu istilah yang dilewatkan KBBI mengenai cinta. Istilah itu ialah cinta segitigaBagi saya, ini satu pengabaian besar. Sebab cinta segitiga tentu sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia. Bahkan, banyak buku, film, atau sinetron yang menyuguhkan cinta segitiga sebagai tema utama. Cinta segitiga, umumnya menunjuk pada kasus cinta bercabang, dan diasumsikan sebagai perselingkuhan yang bercitra negatif.

Hubungan cinta segitiga tidak bisa tidak, haruslah melibatkan pihak ketiga. Sehingga maraknya kasus cinta segitiga, membuat pihak ketiga dalam hubungan terlarang ini juga memiliki sebutannya tersendiri. Pelakor, itulah istilah yang belakangan ramai disebut-sebut.  Secara morfologis pelakor adalah bentuk akronim atau pemendekan dari gabungan kata perebut laki orang. Secara sintaktis istilah pelakor  umumnya menduduki fungsi nomina, seperti halnya kata pelakon, pelalah, pelasuh, pelaku, dsb. Sementara secara semantis, pelakor maksudnya adalah 'seorang wanita jahil dan fasik yang berniat ingin merusak hubungan atau rumah tangga orang lain'. Berkaitan dengan pengertian itu, pelakor juga sering dilekatkan dengan cara merayu dan menggoda yang dicap negatif oleh masyarakat.

Berkaitan dengan maraknya tren cinta segitiga, menurut hemat saya, istilah pelakor bisa juga dipertimbangkan Badan Bahasa untuk masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tujuannya, tentu untuk menambah perbendaharaan kata yang berkonotasi kritik/sindiran dan negatif. Dan bila Badan Bahasa setuju istilah pelakor diterapkan dan resmi dicatat dalam KBBI, maka mengapa tidak istilah lain yang serupa juga bisa menyususl. Seperti pebinor (perebut bini orang) atau pewanor (perebut wanita orang). Siapa tahu, timbullah efek jera bagi setiap perayu dan perebut.

Fajar Sandy

Menyelesaikan pedidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia. Guru honorer, penikmat bahasa dan sastra. Menulis di beberapa media cetak.


*) Artikel ini adalah penyesuaian dari artikel berjudul sama yang pernah terbit di Pikiran Rakyat pada 21-8-2018 .




Pintu Video