Listrik: Padam dan Mati!

Iwan Ridwan - Thu, Dec 26, 2019 4:54 AM

Belum saja seminggu, gangguan listrik di wilayah Jawa bagian Barat sudah membuat sebagian masyarakat kalang kabut. Peristiwa ini pun mengingatkan kita saat terjadinya pemadaman listrik massal yang melanda Jawa dan Bali pada 18 Agustus 2005. Kasus ini sempat berada pada urutan ketiga blackout paling buruk di dunia versi Power Technology.

PLN pun, menyampaikan permohonan maaf melalui berbagai media, tak terkecuali instagram. Salah satu permohonan maafnya disampaikan dengan tulisan begini, "PLN memohon maaf atas kejadian listrik padam akibat gangguan transmisi Ungaran-Pemalang 500kV (untuk wilayah Jabodetabek, sebagian Jawa Barat, dan Jawa Tengah)".

Tidak heran bila hal ini dipersepsi sebagai peristiwa penting, sebab peristiwa ini berdampak besar pada terganggunya berbagai aktivitas kehidupan. Presiden RI, setelah pertemuannya dengan pihak PLN, juga memberikan sinyal agar kejadian ini tidak terulang lagi. Jelas, bahwa listrik sebagai penanda peradaban modern telah menjelma sebagai matahari yang diminta terus menyala tanpa boleh padam dan mati.

Bicara soal istilah listrik padam, metaforpemadaman listrik menjadi frasa yang ramai diperbincangkan. Metafor ini memang tak semengerikan kemungkinan metafor lain, seperti kematian listrik atau bahkan kepunahan listrik misalnya. Oleh karena itu, agaknya kita akan lebih sering mendengar istilah pemadaman, dibanding pematian.

Listrik dengan segala jenisnya juga sepenting kebutuhan manusia akan air. Tanpa air dan listrik, hal-hal mengerikan mungkin terjadi. Bahkan, hal ini dapat mengancam kelangsungan peradaban bangsa kita. Sudah saatnya, kejadian listrik padam ini menjadi perhatian semua kalangan, tak terkecuali para pemerhati bahasa.

Saat listrik padam, dalam telaah terbatas, saya cermati bagaimana masyarakat dan media massa mengungkapkan ketiadaan listrik, baik melalui lisan maupun tulisan. Banyak sekali istilah yang bermunculan. Ada yang menggunakan ungkapan listrik padam, listrik mati, mati lampu, ada pula yang menggunakan istilah mati listrik. Berikut petikan kalimat yang saya catat.

  • PT PLN (Persero) menjanjikan adanya kompensasi untuk masyarakat yang mengalami listrik padam pada Minggu.
  • Padamnya listrik atau mati lampuhampir 8 jam pada Minggu kemarin mengakibatkan lumpuhnya berbagai aktivitas bisnis dan pelayanan publik di Jakarta.
  • Gaji Pegawai PLN Dipotong karenaMati Listrik, Bagaimana dengan Direksi?
  • PLN Bakal Potong Gaji Karyawan untuk Bayar Kompensasi Listrik Padam
  • PLN Bakal Pangkas Gaji Karyawan untuk Bayar Ganti Rugi Mati Listrik
  • Sejarah Mati Listrik Terburuk di Dunia, Termasuk Indonesia

Dari beragamnya diksi di atas tampaklah sejumlah kata yang selalu terlibat, yakni listrik, mati, dan padam. Listrik diartikan KBBI sebagai daya atau kekuatan yang ditimbulkan oleh adanya pergesekan atau melalui proses kimia, dapat digunakan untuk menghasilkan panas atau cahaya, atau untuk menjalankan mesin. Sementara itu, kata padam, dari sekian banyak maknanya, mengandung makna 'mati' yang berkenaan dengan api, sedangkan kata mati juga menyimpan konsepsi padam yang berkenaan dengan lampu dan api.

Dalam kasus ini, nampaknya Badan Bahasa telah menyandingkan kata padam dan mati sebagai kata yang bersinonim. Artinya, fenomena ungkapan listrik padam, listrik mati, mati listrik, mati lampu merupakan sebuah konsep dan persepsi yang sama bahwa listrik akan erat dengan kata padam dan mati, bukan tewas, wafat, atau meninggal.

Andai saja terlontar ungkapan listrik tewas, listrik wafat, atau listrik meninggal tentu hal itu akan menggelitik akal kita yang masih waras. Terutama bagi yang belum mau dikatakan mati akal dan buntu pikiran. Perasaan menggelitik itu timbul karena katatewas, wafat, atau meninggal sudah diasosiasikan untuk manusia, bukan hewan/tumbuhan. Tingkatan makna antara ketiganya tentu disesuaikan dengan konteks tersendiri. Wafat dianggap lebih menunjukkan derajat/status sosial yang tinggi dibanding kata tewas. Kata tewas bisa menimbulkan dugaan kematian yang mengenaskan: bisa akibat kecelakaan, gantung diri, racun, dan sejenisnya. Adapun kata meninggal cenderung dapat digunakan untuk segala status sosial.

Kembali pada soal listrik yang padam dan mati, jika dicari padanannya dalam bahasa Inggris, muncul padanan seperti power outage. Artinya semakna dengan mati listrik atau listrik padam. Ada pula istilah lights outage yang berarti mati lampu. Hal ini agaknya perlu juga diperhatikan, sebab seperti kita ketahui, frasa dalam bahasa Indonesia umumnya berpola diterangkan-menerangkan (D-M). Oleh karena itu, gabungan bentuk mati listrik dan listrik padam dapat dikatakan sudah sesuai kaidah. Namun, tidak demikian dengan ungkapan listrik mati. Ungkapan ini berpola menerangkan-diterangkan (M-D) yang umumnya merupakan pola pembentukan frasa di dalam bahasa Inggris. Persis seperti kasus power outage atau lights outage.

Penggunaan gabungan kata listrik mati ternyata tak kalah produktifnya di masyarakat. Akan tetapi, dari segi kebakuan, listrik mati lebih cocok digunakan dalam ragam nonformal atau bahasa sehari-hari. Misalnya, pada percakapan, "Kenapa dengan listriknyaListrik mati". Kondisi ini juga bisa dibentuk dengan ungkapan padam listrik sebab bisa berpadanan dengan pareum listrik dalam bahasa Sunda.

Bagi PLN listrik mati merupakan kejadian yang membawa banyak konsekuensi. Bagi masyarakat secara umum, listrik padam menimbulkan banyak kerugian. Namun bagi penutur bahasa Indonesia, peristiwa ini justru memberi banyak pilihan. Persitiwa itu boleh saja sekehendak hati disebut listrik mati, mati listrik, atau pun listrik padam. Yang jelas, sekalipun listrik belum menyala, penerangan akal harus tetap terjaga!




Pintu Video