Jalan Santai

Admin - Fri, Feb 21, 2020 10:56 PM

Peringatan hari Kemerdekaan senantiasa disemarakkan dengan beragam hal. Berbagai persiapan dilakukan warga dari Sabang sampai Merauke untuk merayakannya. Mulai dari memasang umbul-umbul hingga rangkaian perlombaan yang sangat meriah. Setelah upacara pengibaran bendera selesai, diadakanlah berbagai kegiatan perlombaan, seperti lomba panjat pinang, pukul kendi, tarik tambang, jalan santai, dll. Ada yang menarik perhatian, tampaknya dalam KBBI tidak dapat saya temukan kata jalan bersanding dengan kata santai. Padahal, saya menemukan kata jalan bersanding dengan kata cepat.

Jalan santai sendiri adalah kegiatan yang dilakukan warga untuk mengafdalkan kegiatan agustusan. Biasanya para warga berkumpul berjalan kaki dengan santai ke tempat yang telah ditentukan panitia penyelenggara. Namun, tidak hanya Agustusan, jalan santai juga biasa dilakukan masyarakat setiap hari.

KBBI mengartikan kata santai sebagai kegiatan yang dilakukan dengan bebas tanpa ketegangan. Syahdan, dalam KBBI, banyak kata jalan yang berpadanan dengan kata lain yang berantonim, seperti jalan naik, jalan turun, jalan masuk, jalan keluar, jalan darat, jalan udara, dll.  Lalu, pertanyaannya, mengapa kata santai tidak dimasukkan mendampingi kata jalan, dan berantonim dengan jalan cepat?

Jika ditelisik lebih dalam, makna jalan santai sudah banyak diketahui dan tidak asing di telinga masyarakat yang mendengarnya. Dengan demikian sudah sepatutnya bila Badan Bahasa mempertimbangkan untuk mencatat jalan santai ke dalam daftar kekayaan bahasa kita.

Fajar Sandy

Menyelesaikan pendidikan Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia. Penikmat bahasa dan sastra. Menulis di sejumlah media cetak.

*) Artikel ini adalah penyesuaian dari artikel berjudul sama yang pernah terbit di Pikiran Rakyat.




Pintu Video