Internasionalisasi Bahasa; Indonesia Tak Harus Kuat Secara Ekonomi

Ahmad Muzaki - Fri, Jun 5, 2020 7:29 PM

Beberapa tahun belakangan ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia bersama APBIPA (Asosiasi Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) getol menggaungkan kampanye bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. Salah satunya dengan mengirim pengajar bahasa Indonesia terbaik ke seluruh penjuru dunia. Tujuannya satu, membuat para bule di berbagai belahan dunia mahir berkata “Aku cinta Indonesia” atau mengucapkan “Selamat Tinggal”  pada mantan yang sebentar lagi akan jadi suami atau istri orang. Lhaa..

Harapannya setelah mereka mahir berbahasa Indonesia mereka bisa mengajak ibu-bapaknya menggunakan bahasa Indonesia, menawar harga kangkung di pasar pakai bahasa Indonesia, dan kalau perlu sampai mengigaunya pun menggunakan bahasa Indonesia, lengkap dengan prefiks dan sufiks yang benar. Pendek kata, di manapun mereka berada, mereka bisa menerima dan mentransfer segala informasi dalam bahasa Indonesia.

Dampak kegiatan ini boleh dikatakan luar biasa. Pada tataran akedemis, bahasa Indonesia kini mulai dijadikan mata kuliah wajib di berbagai kampus asing seperti University of Shouthern Queensland di Australia, Hong Bang University di Vietnam atau Hangkuk University of Foreign Studies di Korea Selatan. Hal ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia cukup bisa diterima dan wajib dipelajari, terlepas dari apapun motivasinya. Entah karena benar-benar tertarik mempelajarinya, tuntutan perkerjaan, atau agar bisa membalas komentar julid netizen Indonesia di akun instagram artis idola mereka.

Bicara soal konsep bahasa internasional, Expanded Graded Intergenerational Discruption Scale (EGIDS) yang dikembangkan oleh Lewis dan Simon (2010) menyebutkan bahwa untuk menjadi bahasa internasional setidak-tidaknya suatu bahasa harus sudah digunakan secara luas dalam perdagangan, dalam pertukaran ilmu dan pengetahuan, dan dalam kebijakan internasional.

Anggapan umum memandang bahwa untuk menjadi bahasa internasional, sebuah negara haruslah mempunyai ekonomi yang kuat dan menguasai perdagangan dunia. Beberapa hal dapat menjadi ukuran. Satu di antaranya, sebuah negara dikatakan memiliki ekonomi yang kuat apabila memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) ≥ US$ 12.375.

Mengapa perlu ekonomi yang kuat dan pendapatan yang besar? Analogi sederhananya adalah jika seseorang mempunyai pendapatan yang besar maka semakin banyak penawaran produk atau jasa yang menghampirinya. Di lain sisi, orang yang menawarkan produk akan berjuang mati-matian merebut hati calon partner-nya agar penawaran tak bertepuk sebelah tangan. Dan cara yang paling efektif merebut hati calon partner adalah, salah satunya, membuat mereka merasa nyaman dan terkesan dengan cara mempelajari bahasanya.

Dari analogi itu, tidak heran bila saat ini bahasa Mandarin menjadi bahasa yang paling banyak penuturnya. Sebab setiap negara yang ingin menjalin hubungan kerja sama dengan Tiongkok (yang tak lain adalah negara kedua paling kuat secara ekonomi) ingin membuat partner mereka nyaman dan terkesan dengan cara mempelajari bahasa Mandarin.

Namun, kuat secara ekonomi bukanlah satu-satunya cara agar bisa menjadi bahasa internasional. Sulit untuk menjadi negara yang kuat secara ekonomi. Oleh karena itu, Indonesia mungkin bisa mencontoh bahasa Inggris sebagai bahasa pertukaran ilmu dan pengetahuan.

Menjadi bahasa pengetahuan juga pernah dialami bahasa Yunani kuno pada masa sekitar tahun 1000-31 SM, dan bahasa Arab pada masa sekitar 750-1258 M. Namun saat ini, semua buku, esai, penelitian, penemuan, dan inovasi-inovasi terbaru ditulis menggunakan bahasa Inggris. Hal ini seolah membuat seseorang yang ingin mengetahui perkembangan dunia mau tidak mau harus mempelajari bahasa Inggris terlebih dahulu. Hal ini tentu tidak lepas dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan di Eropa pada abad pertengahan.

Kolonialisasi bangsa eropa, khususnya kerajaan Inggris semakin membuat bahasa Inggris tersebar luas di berbagai negara. Beberapa negara persemakmurannya bahkan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi kenegaraan mereka, di antaranya adalah; Autralia, Malaysia, India, Singapura, Brunei Darusalam, Filipina, Zimbabwe dan Afrika Selatan.

Negara dengan pusat perkembangan ilmu dan teknologi umumnya sanggup menjadikan bahasa yang mereka pakai sebagai bahasa internasional. Hal itu karena bahasa dapat bertransformasi dari hanya sebagai alat komunikasi perdagangan dan ilmu pengetahuan, menjadi gaya hidup dan simbol sosial yang prestisius.

Namun begitu, menjadi bahasa yang banyak dituturkan di dunia internasional juga bisa dilakukan dengan cara lain. Misalnya, dengan menjadi bahasa hiburan sebagaimana bahasa Korea menyebar luas ke seluruh dunia. Melalui musik dan drama K-Pop, kini bahasa Korea bukan saja mulai banyak dibicarakan, tetapi juga dipelajari dengan berbagai macam motivasi. Yang terbanyak, bisa jadi demi menjiwai haru-birunya menonton drakor di sore hari.*




Pintu Video