Acan dan Teu Acan

Resna J. Nurikirana - Thu, Feb 13, 2020 7:51 PM

Pertanyaan tentang perbedaan acan dan teu acan kerap memenuhi kepala saya akhir-akhir ini. Beberapa kali saya menanyakan hal ini kepada rekan sesama orang sunda, sayangnya tak ada jawaban pasti terkait persoalan acan dan teu acanUnik memang. Meski dibubuhi partikel teu, kata acan tetap saja memiliki makna yang sama.

Acan adalah bahasa Sunda dari kata belum sedangkan teu adalah bahasa sunda dari kata tidak.  Secara gramatikal, ketika partikel teu dan kata acan ditulis beruntun, maka frasa yang terbentuk adalah teu acan. Dengan demikian, semestinya teu acan bermakna 'tidak belum', atau 'sudah'. Anehnya, dalam percakapan sehari-hari baik acan maupun teu acan tetaplah memiliki makna yang sama, yakni 'belum'. 

Dalam Bahasa Inggris, kita mengenal kata yet yang memiliki arti 'sudah'. Ketika kata yet didahului kata not (tidak), maka secara otomatis makna yang tercipta dari not yet adalah lawan dari kata sudah, yakni 'belum'.  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata tidak merupakan sebuah partikel untuk menyatakan pengingkaran, penolakan, atau penyangkalan. Maka sudah seyogianya kata tidak selalu memberi makna negasi kepada kata yang berada setelahnya.

Begitu juga dengan partikel teu dalam bahasa Sunda. Pada kasus kata cios misalnya. Ketika kata cios yang berarti 'jadi' didahului kata teu, maka makna yang akan terbentuk adalah negasi dari kata cios, yakni 'tidak jadi'. Lalu bagaimana dengan kasus acan dan teu acan?  Mengapa kedua kata ini seolah tidak patuh pada konvensi yang telah ada dalam sebuah bahasa?

Ada dua kemungkinan yang muncul dalam persoalan kata acan dan teu acan. Kemungkinan pertama adalah soal salah kaprah. Dalam Bahasa Indonesia kita mengenal kata acuh, di mana dalam kamus, acuh memiliki arti 'peduli' atau 'mengindahkan'. Hanya saja, sebagian masyarakat seringkali salah kaprah. Banyak yang mengira kata acuh memiliki arti 'tidak peduli' atau 'cuek'. Padahal dalam kamus, kata yang tepat untuk melambangkan kepedulian seseorang adalah acuh bukan tidak acuh. Penggunaan frasa teu acan bisa jadi merupakan kasus yang serupa, salah kaprah masyarakat yang mengartikannya. Dalam hal ini penggunaan kata acan lebih tepat digunakan untuk mewakili makna 'belum'.

Kemungkinan kedua adalah persoalan bahasa kasar dan bahasa halus. Dalam Bahasa Sunda, kita mengenal undak usuk basa. Undak usuk basa adalah sebuah aturan di mana pemilihan kata disesuaikan dengan usia dan kedudukan sosial lawan bicara. Dalam Bahasa Indonesia, kata makan digunakan untuk semua lawan bicara dalam berbagai usia. Sementara itu, dalam Bahasa Sunda kita menggunakan kata tuang untuk orang yang lebih tua, neda untuk diri sendiri, emam untuk orang yang lebih muda, dan nyatu untuk hewan.

Selain undak usuk, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, Bahasa Sunda memiliki  kata-kata yang digolongkan ke dalam kategori kasar dan halus. Dalam medan makna 'makan' misalnya, dahar, lebok, dan hakan adalah kata-kata yang bersinonim dengan makan namun memiliki konotasi yang kasar.

Begitu pula dengan kata acan dan teu acan. Kalau pun kedua kata tersebut memiliki makna yang sama di masyarakat, nilai rasa yang terkandung di dalamnya tetap memiliki perbedaan. Ketika seseorang bertanya kepada kita "tos ibak can?" lalu kita menjawab "acan" maka jawaban kita menyiratkan kesan tidak santun. Berbeda dengan pertanyaan dan jawaban yang menggunakan kata teu, "tos tuang teu acan, Pak?" lalu lawan bicara menjawab "teu acan." Maka kesan yang muncul adalah sebuah kesantunan dalam percakapan.

Mana yang benar? Pada akhirnya, bahasa selalu dikembalikan pada penggunanya. Jika pengguna merasa kata teu acan lebih santun daripada acan, maka ada baiknya pengguna menggunakan pilihan kata yang dinilai lebih santun.  Sebab bagaimana pun, seringkali bahasa menjadi alat ukur bagi kepribadian dan latar belakang seseorang.




Pintu Video