Corona dalam Nama dan Sejarah Manusia

Roby Aji - Thu, Jan 16, 2020 7:29 AM

Hanya dalam hitungan hari corona menjadi wabah yang menggemparkan dunia. Betapa tidak, ribuan orang jatuh sakit dan meninggal tiba-tiba. Lain dengan jatuh cinta yang memang sering tiba-tiba, rupanya wabah ini tidak benar-benar baru. Sejarah mencatat, virus jenis ini telah ditemukan menyerang manusia sejak tahun 1960-an. Sementara namanya sudah tercatat sejak abad ke-15.

Konon, menurut jurnal virologi laporan Wertheim J.O. dkk. yang sekenanya saya bolak-balik, virus ini bahkan sudah ada sejak 8000 tahun sebelum Masehi. Virus ini mulanya hidup dan berkembang pada kelelawar, burung, seta vertebrata terbang lain yang berdarah hangat. Namun begitu, dalam kurun ribuan tahun, virus ini rupanya telah berevolusi menjadi berbagai jenis dan varian. Menular dari satu jenis kelelawar ke jenis kelelawar lain. Dari spesies hewan yang satu ke spesies hewan yang lain. Dan setelah berinang pada musang, barulah virus ini konon menjangkit juga ke tubuh manusia.

Pada manusia, virus corona juga dipercaya sebagai penyebab terbesar terjadinya selesma. Sebagian besar virus ini umumnya hanya menyebabkan gejala demam dan pembengkakan pada tenggorokan. Namun seperti yang kita tahu belakangan, beberapa jenis virus ini telah berevolusi menjadi demikian ganas. Bukan hanya menyebabkan flu, demam, dan infeksi pernafasan, virus ini juga sanggup menyebabkan pneumonia atau paru-paru basah.

Namun begitu, seperti telah disinggung di muka, corona telah lama ada dalam kehidupan manusia. Bila sebagai virus ia hidup di dalam tubuh manusia sejak tahun 1960-an, corona sebagai nama justru sudah digunakan manusia jauh sejak tahun 1540-an. Dalam Bahasa Latin kata ini berarti 'mahkota' atau 'kalung karangan bunga'. Mahkota atau karangan bunga ini memiliki arti khusus dalam kebudayaan Romawi. Ia hanya dianugerahkan kepada angkatan militer tertentu, sebagai tanda dan pembeda antar-jawatan. Oleh karena itu, corona  adalah tanda kehormatan juga kemuliaan bagi penyandangnya.

Berdasarkan pengamatan sejumlah leksikografer, kamus Webster mencatat bahwa kata ini bermula dari kata korone, yang dalam Bahasa Yunani kuno bisa bermakna 'gagak', bisa bermakna 'burung laut', bisa 'berbagai benda melengkung atau bengkok (seperti gagang pintu atau ujung busur)', dan bisa pula bermakna 'sejenis mahkota'. Kata ini kemudian diserap Bahasa Latin menjadi corona. Artinya 'rangkaian bunga yang dikenakan di atas kepala'.

Dari Bahasa Latin, lema ini lantas diserap ke dalam Bahasa Anglo-Perancis. Dalam Bahasa Anglo-Perancis, corona berubah lafal menjadi coroune, yang kemudian meresap lagi ke dalam Bahasa Inggris pertengahan. Sementara dalam Bahasa Inggris pertengahan, kata ini juga mengalami perubahan ucap menjadi croune. Hingga akhirnya, berlabuhlah ia ke dalam kamus Bahasa Inggris modern sebagai lema crown. Adapun maknanya, tidak jauh berbeda dengan makna aslinya dalam Bahasa Latin.

Jika memang berbahaya, lantas mengapa wabah ini dinamai dengan julukan indah semacam corona? Meskipun menurut Saussure bahasa itu bersifat arbitrer atau tak ada kaitan langsung antara nama dengan benda yang diwakilinya, faktanya ia juga menyatakan bahwa bahasa manusia sering memiliki secondary motivation. Artinya dalam sejumlah kasus, manusia cenderung memiliki suatu alasan khusus dalam menamai suatu hal yang dihadapinya.

Contohnya, tentu saja adalah corona. Bukan tanpa alasan wabah ini dinamai demikian, sebab gerangan menurut para virolog, di bawah lensa mikroskop elektron virus ini terlihat mirip sekali dengan mahkota kerajaan. Jauh lebih mirip karangan bunga jenderal romawi ketimbang monster yang menakutkan. Oleh karena itu, teringatlah rupanya para virolog terhadap kata latin corona. Disebutlah ia dengan nama itu. Dan dengan nama yang indah itu, kita harapkan pula wabah ini lekas berlalu, dengan akhir yang menggembirakan.*




Pintu Video